Tuesday, July 5, 2011

Catatan Kecil Kehidupan KH. Zainuddin MZ.

KH. Zainuddin MZ. meninggal dunia. Dai sejuta umat itu menyisakan catatan panjang. Berawal sebagai dai, bertambah sebagai politisi. Dari PPP membidani PBR, dan di akhir hayatnya kembali sebagai dai.

Di lebih dua puluh tahun lalu saya berkenalan dengan dai ini. Beliau belum sangat ngetop. Baru beberapa kali memberi ceramah di muka umum, dan belum sangat banyak umat yang mengenalnya. Saat itu mungkin julukannya masih 'dai seratus umat'. Dia baru menjadi dai rising star, belum to be the star.

Saya datang ke rumahnya di Gang Aom. Daerah ini masih kumuh. Siang sebelum sampai rumahnya di kiri jalan saya lihat sebuah musalah sederhana. Saya mampir untuk shalat dan melepas lelah. Dari musala ini saya beranjak ke rumah dai yang kelak punya umat berjuta-juta itu.

Rumah KH Zainuddin MZ kala itu masih sederhana. Di kanan depan rumahnya ada halaman yang cukup luas. Halaman ini difungsikan sebagai lapangan badminton. Saban sore sang dai bermain. Entah dengan anak atau anak-anak muda di gang ini. Saya diajak ngobrol di ruang tengah, sepertinya ruang makan.

Dalam obrolan itu saya tanyakan tiga ketertarikan yang membuat saya datang jauh-jauh dari Surabaya ke Jakarta yang belum seberapa saya kenal. Pertama adalah keberaniannya dalam berceramah. Kedua gaya orator Bung Karno yang dipakai. Dan ketiga adalah salam khas beliau yang selalu 'rokhimallah'.

Soal keberanian dijawabnya, bahwa apa yang diucapkan itu tidak ada kaitan dengan ketakutan atau keberanian. Itu ayat. Itu firman Allah. Sang dai menyebut mendakwahkan siratan ayat. Dan menyuratkannya melalui contoh konkret yang terjadi di sekitar. Terutama persoalan nasionalisme.

Gaya orator Bung Karno diakui memikatnya. Sang Proklamator itu memang idola sang dai. Tidak hanya sikap dan gagasannya, tetapi juga idiom dan cara ucapnya. Itu yang acap terucap dari sang dai ketika berceramah. Isu nasionalisme dijadikan kritik dan 'guyonan'. Dan ini yang terkadang menempatkan sang dai sebagai dai pemberani di zaman Orde Baru itu.

Sedang pertanyaan tentang salam 'rokhimallah' atau 'rochimakumullah' yang bermakna semoga Allah memberimu belas kasih itu tidak dijawabnya. Dia hanya tersenyum. Mengalihkan pembicaraan agar teh yang terhidang diminum. Dan itu akhirnya terlupakan tertimpa obrolan lain selama tiga jam itu.

Salam ini layak ditanyakan. Kala itu belum ada dai yang memakainya. Salam itu terasa tidak umum. Jika dai itu adalah bagian dari 'penampil', maka salam ini satu unsur dari multi unsur yang membentuk keutuhan sang dai. Salam itu khas ustadz Zainuddin MZ.

Hasil wawancara saya jadikan laporan bersambung enam serial. Respons pembaca bagus. Surat pembaca (waktu itu belum ada internet) meminta kegiatan ceramah sang dai diliput berdatangan. Termasuk pandangan dan kisah mistik sang dai yang kala itu memang sering terpublikasi.

Tiga bulan ketika saya sudah melupakan sang dai, tiba-tiba kejutan datang. Tulisan saya diambil beberapa media. Surat kabar dan majalah menurunkan tulisan itu. Dan redaktur saya meminta agar saya menuliskan ulang hasil wawancara yang tercecer. Itu karena pamor sang dai kencang berkibar.

Dua tahun kemudian, ketika sang dai ceramah di Surabaya dan menginap di Hotel Majapahit, iseng-iseng saya datang. Tapi apa yang terjadi? Jangan lagi ketemu dan ngobrol. Untuk melihat wajahnya dari jauh saja harus berdesak-desakan dengan umat yang berjibun. Ya, beliau telah menjadi milik umat!

Sejak itu saya hanya mengikutinya dari televisi. Kabar masuknya ke partai politik (PPP) konsekuensi logis. Santri NU dari 'kelompok Cipete' ini memang lebih pas di partai ini. Itu karena Idham Kholid sebagai 'kiainya' dikategorikan sebagai kiai 'garis keras' yang tidak gampang kompromi.

Namun ketika sang dai membidani Partai Bintang Reformasi (PBR), ada kelu yang mengganjal. Rasa sayang menyesaki dada. Kenapa ustadz yang santun dan teduh itu 'menyeriusi' dunia politik. Dunia yang penuh keduniawian. Dunia yang kadang merobek kearifan dan kejujuran. Garda terdepan menuju pembersihan jiwa.

Saat sang dai kembai sebagai dai, dan Gusti Allah memanggilnya, airmata boleh meleleh. Tapi itu adalah yang terbaik. Insya Allah khusnul khotimah. Selamat jalan dai. Semoga Allah menerima segala amalan dan mengampuni dosa-dosanya.


Djoko Suud Sukahar
pemerhati sosial budaya, tinggal di Jakarta


sumber: detkNews

No comments:

Post a Comment